Monday, September 15, 2008

Menag Menyayangkan Insiden Pasuruan


Menteri Agama Maftuh Basyuni menyayangkan insiden di Pasuruan, Jawa Timur yang menelan puluhan korban jiwa. Menag mengakui banyak pihak lebih memilih membagikan sendiri zakat mereka daripada menyalurkannya melalui badan zakat yang ada. Meski begitu, menurut Menag, Senin (15/9), sebaiknya pembagian dikoordinasikan dengan aparat keamanan. "Mudah-mudahan kejadian ini menjadi upaya ke arah yang lebih baik lagi," kata Menag.

Sementara itu, rasa duka yang mendalam menyelimuti sebagian warga Kelurahan Gading Rejo. Lima warganya meninggal ketika ikut berdesak-desakan mendapatkan zakat di rumah Keluarga Haji Zyaiqon, Gang Pepaya, Kelurahan Purutrejo, Pasuruan, Jatim. Keluarga korban histeris ketika jenazah tiba di rumah duka. Setelah disalatkan jenazah korban langsung dimakamkan di tempat pemakaman umum desa setempat. Ratusan pelayat mengiringi pemakaman jenazah.

Di tempat terpisah, 12 korban antre zakat yang menderita luka-luka sampai kemarin masih dirawat di Rumah Sakit dokter Sudarsono, Pasuruan. Sebagian besar korban menderita luka dibagian anggota tubuhnya akibat terinjak-injak. Satu di antaranya kondisinya masih kritis. Para korban yang sebagian besar wanita berusia lanjut mengaku anggota badannya luka akibat terinjak-injak.

Untuk memudahkan indentifikasi, tim medis di kamar jenazah RS dokter Sudarsono memasang 21 korban yang meninggal dalam musibah antre zakat ini. Setelah proses identifikasi rampung, seluruh jenazah langsung dikirim ke rumah masing-masing korban.

Insiden pembagian zakat di rumah keluarga Haji Zyaiqun terjadi akibat tak adanya pengamanan ketat. Antrean warga yang hendak menerima zakat sudah berlangsung sejak pagi hari. Para pengantre adalah warga kurang mampu dari Kelurahan Purut Rejo dan juga dari kelurahan lain. Bahkan ada yang datang dari luar kota.

Saat pembagian zakat sebesar Rp 30 ribu per orang tengah berlangsung cuaca di lokasi mulai terasa panas. Massa yang sudah kegerahan kemudian disirami air. Namun siraman ini tidak cukup menyabarkan pengantre yang berada di bagian belakang karena sudah tidak sabar mendapat giliran sehingga mulai terjadi saling dorong.

Pengantre yang sebagian besar orang tua dan perempuan tidak kuat menahan dorongan sehingga satu persatu mulai berjatuhan, tergencet dan juga terinjak-injak. Hanya teriakan histeris yang terdengar dari mulut mereka karena tidak kuat menahan sakit [baca: Saling Desak Saat Pembagian Zakat, 21 Tewas]

No comments: